Ruteng (Manduma) — Menyambut Hari Pramuka Tahun 2026 yang diperingati tanggal 14 Agustus setiap tahunnya, Gerakan Pramuka Gugus Depan (Gudep) MAN 2 Manggarai melakukan terobosan baru melalui perkemahan kolaborasi lintas kabupaten. Bersama MTsN 1 Manggarai Barat, MAN 2 Manggarai bakal menggelar Kemah Pramuka Bersama bertajuk “Kemah Pramuka Ekoteologi dan Moderasi Beragama”.
Kepastian penyelenggaraan kegiatan strategis ini diinformasikan dalam rapat internal antara Kepala Madrasah, jajaran Wakil Kepala Madrasah (Wakamad), dan Pembina Pramuka Gudep MAN 2 Manggarai di Ruang kerja Kepala Madrasah pada Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan perkemahan dipusatkan di Bumi Perkemahan MTsN 1 Manggarai Barat di Nanggali, Kecamatan Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat, dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Agustus 2026.
Koordinator Pembina Pramuka MAN 2 Manggarai Antonius S. Purwanto Kabe, S.Pd., M.Pd menyampaikan bahwa skenario dan teknis kegiatan telah dimatangkan secara bersama oleh tim pembina dari kedua belah pihak dalam sepekan terakhir.
“Kami intens berkomunikasi dengan pembina Pramuka MTsN 1 Manggarai Barat dan Kamabigusnya. Berbagai kesepakatan teknis pelaksanaan sudah dirumuskan demi memastikan kegiatan berjalan lancar, aman, dan dapat memberikan dampak pembinaan yang optimal bagi para siswa,” jelasnya kepada Humas MAN 2 Manggarai.
Kepala MAN 2 Manggarai, Demasere,S.Pd menegaskan bahwa perkemahan ini menjadi catatan sejarah baru bagi satuan pendidikan yang dipimpinnya. Kegiatan ini tercatat sebagai kemah kolaborasi lintas kabupaten pertama yang diselenggarakan oleh Gudep MAN 2 Manggarai.
“Ini kali pertama MAN 2 Manggarai mengadakan kemah lintas kabupaten. Oleh karena itu, seluruh persiapan harus dilakukan secara matang, terencana, serta memperhatikan aspek kedisiplinan dan keselamatan seluruh peserta,” ujar Demasere.
Beliau menerangkan bahwa pemilihan tema Ekoteologi dan Moderasi Beragama ditujukan untuk membentuk karakter anggota Pramuka yang seimbang antara kesadaran spiritual, kepedulian lingkungan, dan sikap sosial yang inklusif.
“Melalui tema ini, para siswa tidak hanya dilatih keterampilan kepramukaan, tetapi juga dididik untuk mencintai dan menjaga alam (ekoteologi) sekaligus menanamkan nilai-nilai saling menghargai dan tenggang rasa (moderasi beragama). Saya berharap kegiatan ini menjadi modal berharga bagi pembentukan karakter generasi muda di madrasah,” pungkasnya. (msr)




